
Banyubiru, kolam alami kebanggaan warga Pasuruan di kawasan Winongan, bakal berubah wajah. Selama ini ikon wisata tersebut hanya dikenal dengan kolam luas dan air biru jernih yang memikat mata, namun fasilitasnya nyaris stagnan puluhan tahun. Pemerintah Kabupaten Pasuruan kini menyiapkan langkah besar: menggelontorkan Rp 1,5 miliar pada 2025 khusus untuk Detail Engineering Design (DED) sebagai fondasi transformasi Banyubiru menuju destinasi wisata kelas premium.
Kepala Dinas Pariwisata, Agus Hari Wibawa, menegaskan arah pengembangan tidak lagi sekadar “jualan kolam renang”. Seluruh kawasan akan dioptimalkan: jalur pedestrian tematik, ruang olahraga, atraksi wisata, hingga sarana rekreasi keluarga. Targetnya jelas, mengerek Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang selama ini hanya berkisar Rp 700–800 juta per tahun, jauh dari potensi sebenarnya.
Air biru kehijauan Banyubiru memang sulit ditandingi, tapi daya tarik alami saja tak cukup di era pariwisata modern. Wisatawan kini mencari pengalaman menyeluruh—hiburan, kenyamanan, hingga aktivitas komunitas. Karena itu, pembangunan nantinya akan mengacu penuh pada DED, dengan prioritas pada fasilitas dasar dan standar pelayanan. “Kalau indah tapi pengunjung tak nyaman, mereka tidak akan kembali,” tegas Nusantoro, Kabid Destinasi dan Industri Pariwisata.
Dengan sentuhan profesional, Banyubiru diproyeksikan bukan hanya jadi tempat berenang, melainkan magnet wisata terpadu yang mampu memutar roda ekonomi lokal lebih kencang, sekaligus menempatkan Pasuruan dalam peta destinasi unggulan Jawa Timur.
