Dulu Primadona, Kini Petani Apel Tutur Menjerit Dihimpit Iklim Tak Menentu dan Biaya Produksi

Dulu Primadona, Kini Petani Apel Tutur Menjerit Dihimpit Iklim Tak Menentu dan Biaya Produksi

PASURUAN – Kejayaan apel sebagai komoditas unggulan di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, kini tengah menghadapi ujian berat. Para petani di wilayah dataran tinggi tersebut kian terhimpit oleh berbagai masalah pelik, mulai dari perubahan iklim ekstrem, penyusutan lahan yang drastis, hingga tingginya biaya operasional yang tak sebanding dengan hasil panen.

Data terbaru menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan. Lahan perkebunan apel yang pada tahun-tahun sebelumnya membentang seluas hampir 2.000 hektare, kini menyusut tajam hingga tersisa sekitar 744,91 hektare pada tahun ini.

Dampaknya langsung terasa pada produktivitas panen. Jika pada tahun 2018 hasil panen masih mampu menembus angka 54.000 ton per tahun, kini angka tersebut anjlok menjadi sekitar 21.072 ton saja.

Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Pasuruan, Heri Subhan, mengungkapkan bahwa kondisi ini diperparah sejak pandemi Covid-19. Namun, faktor alam menjadi pukulan terberat. Pemanasan global menyebabkan suhu udara di kawasan Tutur meningkat, padahal tanaman apel membutuhkan suhu dingin yang stabil untuk tumbuh optimal.

“Dulu di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut (mdpl) apel bisa tumbuh subur. Sekarang idealnya harus di atas 1.000 hingga 1.300 mdpl. Perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu membuat banyak petani merugi dan akhirnya beralih menanam komoditas lain seperti jeruk, cabai, atau sayuran,” jelas Heri, Minggu (7/12/2025).

Menanggapi krisis ini, Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian tidak tinggal diam. Plt Kepala Dinas, Hari Hijroh, menyatakan pihaknya tengah menggencarkan program Sekolah Lapang (SL) untuk menyelamatkan pertanian apel di Tutur.

Program ini mencakup pelatihan Pengendalian Hama Terpadu (SL PHT) serta penerapan standar pertanian yang baik (Good Agriculture Practice). Tujuannya adalah membekali petani dengan teknik budidaya modern agar mampu bertahan di tengah tantangan iklim dan serangan hama yang kian ganas.

“Kami berusaha meningkatkan keterampilan petani dalam penanganan pascapanen dan pengendalian penyakit agar kualitas apel Tutur yang legendaris ini tetap terjaga,” pungkas Hari.

More From Author

Jarah Rumah Tetangga Sendiri, Komplotan Pencuri Emas di Gempol Diringkus Polisi

Pertahankan Tradisi Juara, Kabupaten Pasuruan Kembali Sabet Predikat Sangat Inovatif” di Ajang IGA 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *