Prabowo Subianto Bela Kepolisian Republik Indonesia: “Mereka Selalu Disalahkan, Padahal Menertibkan”
Jakarta — Menteri Pertahanan sekaligus mantan Komandan Jenderal, Prabowo Subianto, mengambil sikap terbuka dan melontarkan pembelaan publik atas kerja aparat kepolisian yang menurutnya terlalu sering disalahkan oleh masyarakat. Pernyataan ini muncul di tengah isu menanjak soal kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.
Prabowo menjelaskan bahwa tugas polisi tidak semudah yang dipahami banyak orang. “Di mana pun di dunia, polisi itu sering dikritik, tapi tugasnya tetap menertibkan,” katanya dalam sebuah kesempatan. detiknews+1
Menurutnya, aparat kadang harus mengambil tindakan yang tidak populer agar kondisi sosial tetap terkendali—berbeda dengan pekerjaan yang “dipuji saja ketika berjalan mulus”.
Lebih lanjut, ia mengajak publik untuk melihat dari sisi yang lebih luas. Di satu sisi, masyarakat menuntut keamanan dan ketertiban; di sisi lain, polisi yang menjalankan tugas harus menghadapi risiko kritik ketika bertindak. “Mereka yang menjaga, yang sering tidak terlihat, yang kemudian dianggap salah bila semua tidak berjalan sesuai harapan,” kata Prabowo. Radar Pasuruan – Aktual dan Informatif+1
Pernyataan Prabowo ini muncul di saat momentum ketika berbagai kritik terhadap tindakan kepolisian marak—baik yang terkait dengan operasi ketertiban publik, penegakan hukum, maupun sikap anggotanya. Kritik-kritik itu kadang dilontarkan lewat media sosial, forum publik, hingga laporan media. detiknews
Meski demikian, Prabowo tak menutup mata terhadap perlunya transparansi dan pertanggungjawaban. Ia menegaskan bahwa dukungan publik dan profesionalisme aparat harus berjalan seiring. “Menertibkan bukan berarti menindas. Penegakan hukum bukan hanya soal tindakan, tapi juga keadilan, etika, dan penghargaan terhadap hak asasi,” ujarnya.
Dengan nada tradisional namun berpandangan maju, Prabowo mengingatkan bahwa dalam konteks negara dan masyarakat yang menghendaki stabilitas, aparat keamanan menjadi salah satu pilar yang tidak boleh diabaikan. Ia mengajak kita semua—sebagai bagian dari masyarakat modern namun menghargai warisan kerja keras masa lalu—untuk memberi ruang apresiasi terhadap tugas‐tugas yang tak selalu tampak namun menentukan.
