Wakil Ketua MPR Ingatkan Gen Z Waspadai “Brainwashing” Gaya Baru di Era Digital

Wakil Ketua MPR Ingatkan Gen Z Waspadai “Brainwashing” Gaya Baru di Era Digital

JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, memberikan peringatan keras kepada generasi muda Indonesia agar mewaspadai upaya terstruktur untuk mempengaruhi pola pikir di kancah global yang kini berjalan melalui teknologi digital.

Menurutnya, generasi muda harus memiliki pemahaman kuat terhadap dinamika politik nasional dan global agar dapat menyaring berbagai pengaruh tersebut.

Peringatan ini disampaikan Lestari, yang akrab disapa Rerie, dalam diskusi bertajuk “Preferensi Politik Gen Z Indonesia” di Auditorium Perpustakaan Panglima Itam, NasDem Tower, Jakarta, pada Kamis (30/10/2025).

Rerie menyoroti adanya fenomena baru yang memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk membentuk preferensi publik secara sistematis.

“Kalau dulu kita mengenalnya sebagai brainwashing (cuci otak), kini bentuknya jauh lebih halus dan kompleks. Tanpa disadari, cara-cara ini dapat membentuk preferensi dan bahkan pandangan ideologis seseorang,” jelas Lestari dalam keterangannya.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menilai, pesatnya perkembangan teknologi digital telah menjadi faktor utama yang membentuk cara berpikir dan menentukan preferensi politik masyarakat, terutama di kalangan Generasi Z.

Ia menggambarkan teknologi digital sebagai “pisau bermata dua”. Di satu sisi, teknologi dapat menjadi sarana untuk refleksi dan pembenahan diri. Namun di sisi lain, dapat menjadi ancaman serius jika penggunanya tidak memiliki pemahaman yang benar.

“Tanpa kesadaran dan pemahaman terhadap mekanisme ini, yang terjadi justru bisa menjadi bencana,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rerie juga menyoroti pentingnya melakukan pemetaan terhadap karakter dan pola pikir generasi muda saat ini. Ia mengamati adanya perbedaan pandangan yang signifikan antar generasi, bahkan dalam satu lingkaran keluarga, akibat pengaruh lingkungan dan teknologi.

Menjelang kontestasi politik 2029, Rerie mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan. “Perbedaan pandangan adalah hal wajar, namun jangan sampai berkembang menjadi kebencian dan perpecahan,” pungkasnya.

More From Author

Klaim Luhut: Whoosh Kini Mampu Tutup Biaya Operasional Sendiri, Layani 12 Juta Penumpang

Polisi Sidak Sejumlah SPBU di Pasuruan Buntut Keluhan Pertalite, Ini Hasilnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *