PERSAGI Siapkan “Resep” Khusus ke Presiden demi Sukseskan Makan Bergizi Gratis

PERSAGI Siapkan “Resep” Khusus ke Presiden demi Sukseskan Makan Bergizi Gratis

SURABAYA – Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) kini tengah mematangkan sejumlah rekomendasi strategis bagi pemerintah pusat. Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan nyata organisasi profesi tersebut dalam mengawal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta mempercepat penurunan angka stunting di tanah air.

Hal tersebut menjadi pembahasan utama dalam Temu Ilmiah Nasional II PERSAGI yang digelar di Trans Luxury Hotel Surabaya, Jumat (3/7/2026). Rekomendasi ini nantinya akan diserahkan langsung kepada Presiden sebagai acuan penguatan kebijakan gizi nasional.

Ketua Umum DPP PERSAGI, Ir. Doddy Izwardy, menegaskan bahwa peran pakar gizi sangat krusial dalam menyongsong target Indonesia Emas 2045. Salah satu fokus utamanya adalah menekan angka stunting hingga menyentuh angka 5 persen.

“Kami siapkan rekomendasi ini untuk Bapak Presiden. Fokusnya jelas, mulai dari ketahanan gizi, keamanan pangan, hingga edukasi ke masyarakat,” ujar Doddy di sela-sela acara.

Ia menambahkan, intervensi gizi harus kembali menyasar kelompok paling prioritas, yakni 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)—mulai dari ibu hamil hingga anak usia di bawah dua tahun (baduta).

Jawa Timur Jadi Barometer Nasional Dalam kesempatan tersebut, Doddy juga memberikan apresiasi khusus kepada Jawa Timur. Berkat intervensi yang tepat, Jatim berhasil menurunkan prevalensi stunting hingga di angka 19,8 persen, hanya kalah dari Bali. Ia berharap program MBG ini bisa menjadi “bahan bakar” baru agar angka stunting nasional turun ke target 14,4 persen pada 2029.

Dampak positif MBG juga diamini oleh Sekda Jawa Timur, Adhy Karyono. Menurutnya, program ini bukan sekadar memberi makan, tapi juga menggerakkan roda ekonomi daerah.

“Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di triwulan pertama 2026 mencapai 5,96 persen. Salah satu pendorongnya adalah ekosistem rantai pasok dari UMKM, nelayan, dan petani yang terlibat dalam program MBG ini,” ungkap Adhy.

Lahirkan “Nutripreneur” Sinergi ini turut diperkuat melalui kolaborasi dengan Kementerian UMKM. Deputi Bidang Kewirausahaan, M. Riza Adha Damanik, mengungkapkan pihaknya kini tengah mendorong lahirnya nutripreneur—sebutan bagi ahli gizi yang juga memiliki jiwa kewirausahaan.

“Kami ingin ahli gizi tidak hanya fokus pada nutrisi, tapi juga menjadi pengusaha yang mampu menciptakan lapangan kerja dan berkontribusi pada ekonomi daerah melalui rantai pasok pangan sehat,” tutup Riza.

More From Author

Tragedi di Dukuh Gupit, Pelajar yang Hilang Ditemukan Tak Bernyawa di Dalam Sumur Tua

Warga Kraksaan Geger, Sesosok Mayat Ditemukan Mengapung di Sumur Tua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *